Explainer / Geopolitik
Kenapa konflik bisa menaikkan harga minyak
Terbit
Intinya
Banyak minyak dunia berasal dari wilayah yang punya sejarah gejolak politik. Saat pasar khawatir pasokan terganggu, harga bisa naik melebihi kondisi pasokan dan permintaan saat itu. Selisih ini disebut premi risiko.
Bahas kabar ini bareng pembaca lain di Discord. Gabung Discord
Saat konflik pecah di kawasan penghasil minyak, harga minyak sering langsung bergerak, bahkan sebelum pasokan benar-benar berkurang. Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menjelaskan beberapa alasannya.
Pasokan dan permintaan lambat bereaksi
Dalam jangka pendek, produksi dan konsumsi minyak tidak banyak berubah walau harga naik atau turun. Akibatnya, gangguan pasokan yang kecil pun bisa membuat harga bergerak tajam.
Sejarah gangguan pasokan
Banyak minyak dunia diproduksi di wilayah yang punya sejarah ketidakstabilan politik. EIA mencatat beberapa lonjakan harga besar terjadi bersamaan dengan gangguan pasokan akibat peristiwa politik, misalnya embargo minyak Arab 1973 sampai 1974, revolusi Iran dan perang Iran-Irak, serta Perang Teluk 1990.
Premi risiko
Pasar bereaksi pada gangguan yang sudah terjadi dan juga pada kemungkinan gangguan. Kalau kapasitas produksi cadangan dan stok minyak terlihat tidak cukup untuk menutup pasokan yang mungkin hilang, harga bisa naik di atas tingkat yang ditunjukkan pasokan dan permintaan saat ini. EIA menyebut selisih ini premi risiko.
Sebaliknya, kapasitas cadangan yang besar bisa meredam dampak sebuah gangguan. Besar dan lamanya gangguan juga ikut menentukan.
Yang perlu diingat
Kenaikan harga karena kekhawatiran tidak selalu bertahan. EIA mencontohkan gangguan karena cuaca atau masalah kilang dan pipa, yang biasanya hanya menaikkan harga sementara, lalu harga kembali setelah pasokan normal. Saat membaca berita konflik, perhatikan apakah pasokan benar-benar terganggu atau baru dikhawatirkan.
Sumber
Komunitas, Discord